Home > Artikel > Benarkah bid’ah adalah perbuatan yang tidak dicontohkan oleh rasul?

Jika kita bericara tentang bid’ah maka dalil yang paling krusial dan fenomenal yang membahas tentang bid’ah adalah hadist yang diriwayatkan oleh an-nasa’i yang berbunyi “ sesungguhnya ucapan yang peling benar adalah kitab allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk muhammad SAW, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara baru, setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka.” (HR. An-nasa’i).

Hadis ini lah yang telah memberikan pengertian tentang bid’ah, namun tetap saja banyak orang yang berbeda pendapat dalam memahami isi hadis ini, karena tentunya setiap orang berdinamika dalam memahami suatu teks, ada yang langsung memahaminya secara teks, namun ada juga yang memahaminya secara konteks. Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa bid’ah adalah perbuatan yang tidak dicontohkan oleh rasulullah, namun perbuatan yang seperti apa yang dikatakan bid’ah..?dan apakah segala perbuatan harus pernah dilakukan nabi untuk terhindar dari bid’ah ?

Pada zaman nabi banyak sahabat yang melakukan ibadah, yang sebelumnya belum pernah di lakukan oleh rasulullah, sebagaimana yang pernah di lakukan oleh bilal bin rabbah. Suatu hari rasul memanggil bilal dan berkata “bilal aku mendengar gesekan sandal mu di dalam surga, apa amal yang telah engkau lakukan?” bilal bin rabbah menjawab “ya rasul, aku tidak pernah meninggalkan sholat sunnah dua rakaat setelah berwudhu, yakni shalat sunnah wudhu”. Dan faktanya rasulullah tidak pernah mengerjakan shalat sunnah wudhu, rasul tidak pernah melaksanakan shalat sunnah wudhu dan rasul tidak pernah mengajarkan shalat sunnah wudhu, namun bilal mengerjakan shalat sunnah wudhu yang tidak pernah dikerjakan oleh rasulullah akan tetapi rasul berkata bahwa ia mendengar suara gesekan suaranya di dalam surga.  Apakah rasul mengatakan kepada bilal bahwa yang ia lakukan adalah bid’ah? Tidak, maka terbantahlah pernyataan bid’ah bahwa yang tidak dicontohkan oleh rasul adalah bid’ah karena pernyataan tersebut tidak ada dalam kaidah ushul fiqh dan kaidah fiqh.

Kedua, ketika rasul sedang melaksanakan shalat berjamaah bersama para sahabat, selepas takbiratul ihram ada salah satu sahabat yang membaca doa iftitah ” Allaahu Akbaru kabiiraw-walhamdu lillaahi katsiiran, wa subhaanallaahi bukrataw-wa’ashiila. Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas-samaawaati wal ardha haniifam-muslimaw-wamaa anaa minal musyrikiina. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi Rabbil ‘aalamiina. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa anaa minal muslimiina.” Padahal doa iftitah yang diajarkan rasul adalah ALLAHUMMA BAA’ID BAINII WA BAINA KHATHAAYAAYA KAMAA BAA’ADTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIB. ALLAHUMMA NAQQINII MINAL KHATHAAYAA KAMAA YUNAQQATS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANAS. ALLAHUMMAGHSIL KHATHAAYAAYA BILMAA’I WATSTSALJI WAL BARAD. Maka selepas sholat rasul bertanya “siapa yang membaca allahu akbar kabiro ketika sholat?” kemudian sahabat menjawab “saya ya rasulullah” kemudian rasul kembali berkata “terbuka pintu pintu langit dan turun rahmat karena doa yang kau baca”. Apakah pada saat itu rasul mengatakan doa yang dibaca sahabat adalah bid’ah? Tidak, maka ini menjadi dalil kedua untuk mematahkan tuduhan bid’ah.

Ketiga, pada suatu hari ada orang yang melaporkan kepada nabi tentang imam yang selalu membaca surat al ikhlas sebelum ia membaca ayat yang panjang di dalam sholatnya. Kemudian nabi memanggilnya dan bertanya kepadanya “kenapa engkau sebelum membaca ayat panjang selalu membaca surat al-ikhlas?” kemudian sang imam menjawab “sesungguhnya aku cinta kepada surat al-ikhlas” kemudian rasul berkata “ cintamu kepada surat al-ikhlas membuatmu masuk ke dalam surga”. Apakah sang imam melakukan hal demikian karena rasulullah telah mencontohkannya, apakah rasul marah dan mengutuknya masuk neraka karena melakukan ibadah dan perbuatan yang belum pernah rasul lakukan. Tidak, rasul tidak marah, rasul tidak mengutuk dan rasul tidak mengatakan bid’ah kepada sang imam. Maka dengan kasus ini pernyataan yang mengatakan bahwa bid’ah adalah perbuatan yang tidak dicontohkan oleh rasul telah terbantahkan.

Melalui dari tiga kasus diatas dapat kita simpulkan bahwa sunnah bukan hanya segala perbuatan yang dicontohkan oleh nabi, melainkan juga perbuatan yang telah diakui oleh nabi kebaikannya, dengan kata lain ada sunnah yang dilakukan oleh rasul dan sunnah yang telah di perakui oleh rasul. Namun tentunya tetap akan ada orang-orang yang memiliki perbedaan pendapat mengenai tentang bid’ah dalam ibadah, maka sikap yang harus di kedepankan adalah sikap saling menghargai dan berlapang dada dalam menerima pendapat yang berbeda-beda agar tidak menambah arus konflik dan perpecahan yang terjadi dalam umat islam. Semoga kita selalu menjadi orang yang bijak dalam menyikapi pendapat yang beragam agar terhindar dari tadzir mentadzir dan juga perpecahan. Wallahu a’lam bishowaab.

 

 

 

 

Rangga Eliyansyah
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM,
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Ranggaeliansyah89@gmail.com

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*