Home > Tak Berkategori > Khilafiyah Niat, Takbiratul Ihram dan Mendekap Tangan Dalam Sholat

Beberapa bulan yang lalu, masyarakat di kejutkan dengan viralnya sosok ustad abdul somad yang bermula dari media sosial. Beliau adalah ustad yang berasal dari riau yang sangat luas keilmuannya, terutama di bidang fiqih. Tidak berselang waktu yang lama, munculah sosok ustad adi hidayat, seorang dai muda yang berasal dari banten, yang juga luas keilmunya sekaligus sebagai penghafal al-qur’an. Kedua ustad yang viral dan dicintai oleh umat ini adalah seorang dai yang penyampaiannya lugas, mudah dipahami dan bijak dalam menyikapi perbedaan.

Sebelumnya, umat islam sempat dibuat bingung oleh penyampaian materi yang berbeda dari masing-masing madzhab fiqih yang dianut. Sehingga, tidak jarang sesama umat islam saling menghina dan saling menyesatkan sesamanya. Mereka seringkali menghakimi seseorang yang tak sependapat dengan pemahaman mereka, yaitu dengan cara menghujat dan dianggap sesat. Sebenarnya fenomena ini terjadi karena banyaknya masyarakat yang berbicara banyak mengenai fiqih namun mereka kurang akan pengetahuan terhadap fiqih, sehingga fenomena dan kejadian seperti ini membuat umat islam terpecah belah. Nah, dengan munculnya kedua ustad yang bisa dikatakan mempunyai pandangan yang berbeda dalam fiqh ini dapat meluruskan pemahaman masyarakat tentang masalah khilafiyah (perbedaan fiqih).

Seperti halnya sholat, jika di pandang melalui ilmu fiqih, tata cara sholat terbagi-bagi dan berbeda menurut masing-masing madzhab. Namun, perbedaan tata cara sholat yang notabenenya sama benarnya itu sangatlah minim diketahui oleh masyarakat yang hanya mempelajari tata cara sholat berdasar pada satu madzhab saja. Maka ketika masyarakat awam  melihat seseorang yang pelakanaan sholatnya berbeda, seringkali menghakimi dan mengklaim bahwa itu adalah sebuah kesalahan. Bahkan tidak jarang oknum masyarakat mengklaimnya sebagai sebuah kesesatan yang berujung pada perpecahan.

Dengan penuh harap, melalui artikel yang membahas tentang “takbiratul ihram menurut 4 madzhab” ini, dapat mengurangi perselisihan, keributan dan perpecahan yang terjadi di masyarakat karena memiliki perbedaan dalam pelaksanaan sholat. Semoga tulisan ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan bagi masyarakat mengenai sholat.

Berbicara tentang sholat arba’atul madzaahib ( empat madzhab ), bersepakat bahwa sholat yang hukumnya fardhu ain ada lima, yaitu: shubuh, dzuhur, ashar, maghrib dan isya. Empat imam madzhab ini juga bersepakat dengan ketetapan jumlah rokaat pada masing-masing sholat. Namun terdapat berbagai khilafiyyah terhadap tata cara pelaksanaan sholat menurut empat imam madzhab.

Yang pertama mengenai niat. Empat imam madzhab ini berbeda pendapat dalam cara dan waktu berniat di dalam sholat.

Dalam hadis dikatakan,

الأَعْمال با لنيا ت , وإنما لكل امر ئ ما نوى    إنما

Segala amal tergantung pada niat, dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan niatnya. (HR. Bukhori-muslim)

Dalam hal ini, terdapat perbedaan tata cara niat dalam sholat menurut madzhab syafi’i, hanafi, hambali dan maliki.

Dalam Madzhab Syafi’i, pelaksanaan niat dikenal dengan muqoronah yaitu pelaksanaan niat sejalan dengan  takbiratul ihram. Jadi, menurut madzhab syafi’i pelaksanan niat dilakukan secara bersamaan ketika seseorang bertakbir mulai dari mengucap huruf  alif  sampai di akhiri dengan huruf ra, karena awal dan akhir huruf dari kata “allahu akbar” adalah alif dan ro. (HR. Bukhori-muslim)

Selain itu juga terdapat perbedaan dalam meletakan tangan setelah tabiratul ihram, diantaranya yaitu : antara dada dan pusar, dengan meletakkan tangan disebelah kiri diatas jantung ( versi Ibnu Huzaimah ), dan diatas dada (menurut Syeh Nasrudin Al-Albani).

Sedangkan menurut Madzhab Imam Hanafi, Maliki dan Hambali, bersepakat bahwa niat dalam sholat dilakukan beberapa saat sebelum  takbiratul ihram. Oleh karenanya, seseorang yang menganut tata cara sholat menurut ketiga madzhab ini, cenderung melakukan takbiratul ihram dengan pendek(mengangkat tangan sejajar bahu), tidak panjang  (mengangkat tangan sejajar dengan daun telinga) seperti orang yang menganut madzhab syafi’i. Tata cara berniat dalam sholat menurut ketiga madzhab ini biasanya sering di jumpai di saudi arabia, karena saudi arabia menganut madzhab hanbali. Maka kedua niat yang dilakukan ketika takbir maupun yang dilakukan sebelum takbir sama sama benar dan sama sama sah.

Dari Abdullah bin Umar ra. Berkata:

رأيت النبي- صل الله عليه وسلم- افتتح التكبير في الصلاة ، فرفع يديه

“Aku melihat Nabi saw memulai sholatnya dengan takbir, lalu mengangkat kedua tangannya” (HR. Bukhori no.738)

Selain itu juga terdapat perbedaan dalam meletakkan tangan setelah  takbiratul ihram menurut madzhab hanafi dan hambali meletakan tangan berada dibawah pusar, sedangkan menurut madzhab maliki yakni dengan lepas tangan tidak sedekap.

Demikian penjelasan khilafiyah pada artikel ini.  Wallahu ‘alam bish-shawab

Ditulis oleh :

 

 

 

Rachmadika Fitrianingsih W.
Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Dika.rachmadika@gmail.com
Cp. 085106350906

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*